Selasa, 02 Agustus 2011

Sekularisme dan wajah Islam Turki

Pernahkan kalian membayangkan disuatu Negara yang mayoritas penduduknya hampir 100% muslim justru pemerintahnya melarang pemakaian Jilbab/burqa? Ya, fenomena ganjil seperti ini hanya bisa kalian temukan dinegara yang bernama Turki.




Turki, Negara yang berdiri diantara dua benua; Asia dan Eropa ini menganut paham sekuler sebagai haluan negaranya. Tepatnya tahun 1923, setelah Perang Dunia I berakhir, Mustafa Kemal Attaturk mengubah sistem Negara ini dari sistem kekaisaran menjadi republik. Sejalan dengan perubahan system Negara tersebut, sang Attaturk juga mengubah haluan negaranya yang dulu cendrung agamis berubah menjadi sekuler. Dalam arti harfiahnya, sekularisme adalah suatu paham dimana Negara harus memisahkan urusan agama dengan urusan pemerintahan. Agak bertentangan memang dengan paham sebagian besar masyarakat Turki yang kebanyakan orang muslim. Dalam islam, semua urusan negara, termasuk politik, ekonomi, budaya dan lain-lain haruslah diatur oleh agama, dibawah kendali system kekhalifahan. Namun karna kuatnya dukungan terhadap Attaturk saat itu akhirnya memuluskan distorsi system pemerintahan Turki yang agamis menjadi sekularis.



Untuk mewujudkan Turki yang modern dan Sekuler, Negara ini pun mulai menerapkan peraturan-peraturan yang berusaha melepaskan identitas agama pada diri masyarakatnya; ambil contoh pelarangan penggunaan Jilbab/burqa, pelarangan penggunaan kalung salib, pelarangan kumandang azan dengan bahasa arab (harus menggunakan bahasa Turki), pelarangan penggunaan gelar agama (seperti Haji, pastur dsb.). peraturan –peraturan diatas berlanjut hingga saat ini. Namun, dari sekian banyak peraturan pelarangan tersebut, akhirnya dua peraturan diputuskan untuk dicabut karna banyak menuai kecaman dari kaum agamis dan fundamentalis, diantaranya: pelarangan jilbab dan kumandang azan.


Mari kita kaji lebih dalam keunikan Turki selain dari paham sekularismenya yang masih mengundang kontroversi. Di Turki, tak semua masyarakatnya mendukung paham sekuler yang notabene berasal dari barat tersebut. paham Islam yang mengakar dan membudaya pada diri masyarakat Turki masih bisa kita temukan pada masyarakat turki yang tinggal dipedesaan atau daerah pinggiran. Disini, orang-orang yang tak menyukai sekularisme membuat suatu perlawanan dalam bentuk peraturan yang berkebalikan, atau sebutlah, dipedesaan yang mayoritas muslim, mereka justru menerapkan system syari’ah didaerahnya.


Para pemuda Turki yang tinggal dipedesaan umumnya adalah orang-orang yang agamis dan tak segan-segan menunjukkan symbol-simbiol keagamaannya. Lain halnya dengan masyarakat Turki diperkotaan, nuansa sekularisme justru sangat terasa. Mengutip dari sumber blog lainnya, masyarakat Turki diperkotaan dikenal sebagai orang-orang yang jarang melakukan ibadah agama, atau, mereka manggunakan agama hanya sebatas pelengkap identitas mereka saja.
(to be continued..)